Sumber gambar: Foto Arsip بسم الله الرحمن الرحيم الحمدلله صلاة و السلام علي سيدنا محمد و علي اله و صحبه و تابعين و بعد Pada kesempatan kali ini, saya mau share tentang masa kecilku dan kaitannya dengan pentingnya membaca Al-Qur'an Surat Al-Kahfi Ayat 1-10 . Ceritanya ketika masih kecil kami mengaji di beberapa madrasah dekat rumah. Waktunya berbeda-beda, dan untuk yang lebih besar lagi kajiannya nantinya kami dimasukan ke kelompok belajar di Pontren yang masih ada hubungan keluarga, namun tidak tinggal, tetap pulang ke rumah. Awal pertama mengaji itu saya merasa malu, karena baru pertama kali gabung dengan yang lain. Biasanya hanya dirumah, dengar mama atau ayahku yang membaca Al-Qur'an. Hingga akhirnya teman-teman main mengajakku, dan orang tua support untuk itu, terutama kakekku, yang antusias apabila sudah saya bilang nanti kami ada acara imtihannya. Beli seragam, kemudian menari saman, dan tampil di panggung ketika selesai mengaji setiap satu tahun. Tr...
Sumber gambar : Foto Arsip
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله
صلاة و السلام علي سيدنا محمد و علي اله و صحبه و تابعين و بعد
Kali ini mau hanya bincang2 saja tentang perjalanan hidup sebagai seorang pengajar, ya sedikit coba ke arah perjalanan hidup.
Kadang saya berpikir sejak kecil tidak pernah terpikir akan menjadi seperti sekarang, apalagi keadaannya. Dulu pas kecil pikirannya hanya sekelumit lingkunganku, bahkan cita2 juga tidak tinggi.
Ayahku seorang pengusaha, dari mulai usaha perdagangan beras, perternakan ayam petelur, dan pedagang telur, sembako, angkutan umum, dan truk pengangkut. Sejak kecil hanya ingin bisa mengendarai mobil, nyopir gitu, main2 sama teman2 ttg usaha angkutan, dan saya jadi bosnya, ha ha ternyata sosok ayah bagi seorang anak itu idola. Kemudiaan ingin punya peternakan ayam yang luas dan besar hingga punya kuda-kuda. Almarhum Kakekku berjanji akan wujudkan belikan kuda dan alhamdulillah terwujud, tapi hanya sewa pas khitanan saya naik kuda Renggong. Tapi ternyata yang dimaksud mau dibelikan itu yakni kuda besi darinya, alhamdulillah sudah terwujud walau beliau sudah tidak ada.
Di akhir2 sekolah tingkat atasku muncul dilema, setelah banyak ketemu lingkungan luar, jadi berubah ingin lanjut studi (kuliah) , dan harus memilih lanjutkan usaha ortu atau kuliah. Seperti semua saudaraku, saya pun tidak mau teruskan usaha keluarga, hingga harus dijual, dan tinggalkan kota bisnis keluarga (Jakarta).
Bila ingat itu sekarang, saya rasa ingin menangis kencang, bukan merasa salah pilih tapi merasa saya egois waktu itu, ya Allah maafkan aku. Tapi ini merupakan bagian dari perjalanan hidup.
Tapi rasa penyesalannya terkadang hadir bukan karena waktu itu egois atau pencapaian yang telah didapat saat ini, tapi kenapa setelah berada pada profesi ini saya mengambil jalan untuk berbisnis?! Kesalahan selalu saya rasa, karena saya tidak terlatih seperti Ayahku. Selalu terngiang dalam diri " Kenapa kamu setelah sukses dengan pilihanmu sendiri, kamu mencoba mengambil jalan lagi yang ditawarkan Ayah dan yang jelas2 ditolak jauh sebelumnya?! , padahal yang disediakan Ayah dulu hanya perlu dijalankan, tidak seperti yang dirintis kemaren itu harus saya adakan. Oh pelajaran sekali buat yang lain, belajarlah juga jangan hanya di bangku sekolah, tapi di kehidupan keluarga, bila ortu pedagang, belajarlah, mungkin nelayan, belajarlah, petani dll, belajarlah juga ilmu mereka.
Yang saya sadari kenapa mungkin dulu Bibiku menasehatiku dan membujukku untuk mau, tapi aku keras tidak mau, baru aku sadari, maafkan semuanya, itu yang hanya bisa saya ucapkan, ternyata agar aku lebih kuat sekarang kondisinya, karena kalau jadi pengusaha, kebebasan finansialnya lebih bisa cepat digapai, tidak seperti yang meniti karir, untuk kepuncak lama banget, berliku, dll, ini kenapa dulu kenapa bibiku menasehati.
Tapi nasi telah menjadi bubur, alasan kuatku juga waktu itu tidak mau meneruskan karena bisnis ayahku lagi kritis, harus diselamatkan pasca krisis ekonomi di Indonesia, dan aku hanya anak muda yang ingin lanjut studi. Belum tentu bisa.
Tak pernah sebenarnya menyesali pencapaian sekarang malah bersyukur, namun di sini sebagai pengajar hanya mau share ke anak2 muda bahwa jangan berkecil hati kalau tidak bisa berprofesi di bidang sesuai studi. Banyak jalan menuju Roma, berbisnis bisa jadi pilihan.
Berdasar pengalaman jangan mulai dengan bisnis besar yang pernah saya lakukan, tapi seperti nasehat Ayah dan Kakekku mulailah dari bisnis yang kecil, karena resikonya lebih kecil, namun bila bagus dan berhasil bisa jadi besar dan kokoh. Dan yang penting berkah tanpa ada unsur perbankan.
Pelajarannya juga lebih menerima apa yang ada, menjalani sesuai bidang, tidak ambil resiko, hidup tenang, tak usah serakah, lebih banyak merasa cukup, dan disiplin. Tetap semangat semua memiliki peluang sukses.
Sebagai yang berasal dari keluarga pengusaha saya menilai bahwa peluang bisa dari mana saja, tidak harus dari pekerjaan. Ketika alhamdulillah dapat bekerja sesuai latar pendidikan, tapi kalau tidak dapat, tidak usah berkecil hati. Berbisnis jadi salah satu jalan. Bahkan di dunia pendidikan sekarang kami harus kenalkan para mahasiswa tentang entrepreneurship.
Baik saya maupun semuanya tak usah kita banyak menoleh ke belakang bangun semangat, untuk masa depan yang lebih baik, jadikan sebagai perbaikan, dan kembali semangat.
Niatkan setiap usaha kita lillahi ta'ala, dan ber-visi yang baik dapat menjadi tulang punggung keluarga dan dapat membantu sesama, apalagi untuk di jalan Allah SWT, menjadi lebih baik dan bermakna.
Perjalanan hidup, layaknya perjalan cinta tak tau seperti apa kedepan, namun niat baik, tekad yang kuat, dan berusaha dengan maksimal, berdo'a dan bertawakal kepada Allah SWT, mudah2an bisa sukses semuanya. Aamiin. Yang jelas perjalanan hidup ini yakni perjalanan cinta dari Allah SWT bagi kita hamba-hamba-Nya.
Rabbana atina fi dunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina adzaban nar. Aamiin.
Demikian, semoga bermanfaat,
Wabillahi taufik wal hidayah wa salamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Comments
Post a Comment