Sumber gambar : Foto Arsip بسم الله الرحمن الرحيم الحمدلله صلاة و السلام علي سيدنا محمد و علي اله و صحبه و تابعين و بعد Assalamu'alaikum, wr wb, Dengan tidak mengurangi rasa hormat, pada tulisan ini sedikit menyentil sisi kehidupan masyarakat yang beraneka ragam kemudian bagaimana sampai pada kehidupan yang lebih berarti. Setiap diri terlahir pada masyarakat yang berbeda-beda, dan dengan pengetahuan yang terbatas. Bagaimana kerasnya watak seseorang sebelum sampai pada bacaan yang luas dan pemahaman tentang dunia di luarnya. Buku diibaratkan jendela dunia, bagaimana kita melihat dunia luar tanpa harus mendatanginya atau pergi ke tempatnya. Tulisan menjadi media penulis mengenalkan dunianya kepada pembaca di luar. Dengan media tulis maksud dan pesan dapat tersampaikan dengan relatif tanpa batas ruang dan waktu juga bangsa. Dari barat ke timur, pun sebaliknya. Pri kehidupan orang barat dan timur jelas berbeda, bahkan sesama orang barat sekalipun, pun or...
Sumber gambar : Foto Arsip
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله
صلاة و السلام علي سيدنا محمد و علي اله و صحبه و تابعين و بعد
Assalamu'alaikum, wr wb,
Dengan tidak mengurangi rasa hormat, pada tulisan ini sedikit menyentil sisi kehidupan masyarakat yang beraneka ragam kemudian bagaimana sampai pada kehidupan yang lebih berarti.
Setiap diri terlahir pada masyarakat yang berbeda-beda, dan dengan pengetahuan yang terbatas. Bagaimana kerasnya watak seseorang sebelum sampai pada bacaan yang luas dan pemahaman tentang dunia di luarnya.
Buku diibaratkan jendela dunia, bagaimana kita melihat dunia luar tanpa harus mendatanginya atau pergi ke tempatnya. Tulisan menjadi media penulis mengenalkan dunianya kepada pembaca di luar. Dengan media tulis maksud dan pesan dapat tersampaikan dengan relatif tanpa batas ruang dan waktu juga bangsa. Dari barat ke timur, pun sebaliknya.
Pri kehidupan orang barat dan timur jelas berbeda, bahkan sesama orang barat sekalipun, pun orang timur sekalipun. Istilah barat di sini meminjam istilah mereka Western (Eropa, Amerika, dan yang terkait) dan Eastern (Asia Afrika, dan yang terkait dengannya). Centernya mereka sebut Midle East. Bagaimana pusat peradaban ini menjadi titik pertemuan agama, budaya, politik, dll bahkan konflik.
Perbedaan Perspektif orang barat dan timur terkadang kerap menimbulkan konflik, bahkan berkepanjangan. Namun dalam sisi kemanusian semua pasti condong pada kebenaran. Namun terdapat perbedaan cara pandang akan ini (kebenaran).
Kebenaran yang hakiki pasti merujuk kepada Kitab Suci yang telah Allah SWT turunkan dan diajarkan Para Utusannya (Rasul-rasul-Nya). Bagaimana corak kehidupan yang berbeda dipandang sebagai anugerah.
Anugerah kekayaan khazanah baik itu pemikiran, budaya dll terlihat pada literatur, Karya-karya yang telah ditulis.
Kekurangan dalam pengetahuan akan hal tersebut menjadikan seseorang terjebak pada pemahaman yang sempit. Dan bagaimana hal tersebut telah disadari oleh Ulama, terutama Imam kita semua Imam Syafi'i rahimahullah, beliau merevisi kitabnya sendiri setelah adanya migrasi ke beberapa tempat (Kitab Al-Umm- Kitab Ar-Risalah) . Dan terdapat para ilmuwan lain yang mengalami hal serupa, penambahan pembacaan menambah pengetahuan dan menambah kebijaksanaan.
Perbedaan geografis, budaya, masyarakat menjadikannya lebih "aware" sadar akan terdapatnya perbedaan pada masing2 masyarakat.
Jadi, kalau kita lihat keluasan bacaan atau dalam hal ini pengetahuan mengubah perspektif kita akan sesuatu. Tidak kaku atau keras. Keluasan pengetahuan memberikan arah kepada kebijaksanaan. Dan ilmu yang mengkhususkan dalam tersebut adalah filsafat (philos 'suka' 'senang' 'cinta') "shopos",sofi (kebijaksanaan). Namun, Imam kita semua juga yakni Imam Al-Ghazali rahimahullah mengingatkan akan batas-batasnya, bahkan mengingatkan dalam sebuah kitab (Tahafut Al-Falsafah) akan bahayanya apabila tidak diimbangi dengan agama.
Bijaksana bukan berarti mengikuti apa yang salah dalam sebuah budaya, namun bagaimana kita lebih bijaksana memahami saudara kita yang lain dan tetap melihat bahwa kebenaran dari Allah SWT (Al-Qur'an) yang hak, sebagai pembeda. Kebijaksanaan yang dapat mengubah metode penyampaian yang dengan cara-cara persuasif. Sebagaimana sejarah mengatakan ketika Para Walisongo rahimahumullah menyebarkan ajaran Islam, mereka melakukan pendekatan2 kepada masyarakat. Ada yang lewat budaya, dengan mengubah pelan2 yang tidak sesuai, mengenalkan istilah, hingga mengubah cara pandang tentang "kebenaran" masyarakat dengan perspektif Islam ketika itu, tanpa membumi hanguskan tradisi yang tidak bertentangan dengan Islam.
Hal ini yang akan menyadarkan kita bahwa kenapa kejadian selanjutnya tentang berita mengenai "Romawi" setelah era Sultan Al-Fatih rahimahullah, bahwa zaman telah berkembang, pertukaran literatur juga informasi sangat cepat, bahkan interaksi individu, mengantarkan "kebenaran" disamping yang lebih dulu "kebatilan" pada akhirnya akan sampai juga. Bagaimana sekarang masyarakat Eropa sudah mulai sadar dan tidak terlalu Islampobia, bagaimana nilai2 kemanusiaan yang dijunjung pada ajaran Islam mulai merasuk pada jiwa-jiwa, kebatilan mulai disadari adanya, dan kebenaran mulai nampak. Tingkat "awareness" kesadaran akan fenomena "kejahilan" mulai muncul. Hal yang juga disadari Imam Al-Ghazali bahwa keluasan berpikir dan pengetahuan seyogyanya diimbangi oleh agama, sehingga jiwa tidak kering, bahkan tidak berada pada jurang (pinggir) neraka.
Semoga dalam menapaki kehidupan ini kita selalu mendapatkan taufik dan hidayahNya Allah SWT. Aamiin.
Allahumma shali 'alaa Sayyidina Muhammadin, shalatan tamla'u khazainallah nuran wa takunu lana farajan wa farahan wa sururan. Aamiin.
Demikian, semoga bermanfaat.
Wabillahi taufik wal hidayah, wa salamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Comments
Post a Comment