Sumber gambar : Foto Arsip Bismillahirrahmanirrahim Alhamdulillah shalatu wa salamu'ala Sayyidina Muhammad wa 'alaa Alihi wa Shohbihi wa Tabi'in wa ba'du, Bila berbicara tema di atas yang aku ingat hanya ucapannya Bapak direktur pasca yang menyambutku ketika menjadi mahasiswa baru dengan ucapanya "kamu tidak salah ada di sini, sudah jadi di luar kok mau masuk lagi?! nanti klo pindah bidang (maksudnya klo sekolah lagi berarti mau bekerja berbeda dengan berbisnis), ya waktu itu Alhamdulillah sudah punya usaha dekat kampus, sebagai juga alumni yang menggagas inkubator bisnis (bersama dosenku) di area kampus untuk para mahasiswa. Ucapannya begitu terasa sekarang, apa yang beliau maksud. Tapi tak pernah saya sesali, hanya terkadang perlu kita mengingat bahwa telah besar kita korbankan demi pilihan kita. Dan ucapan Prof, guru yang tulus di bidang ini, mengajar dengan sabar, dan penuh harapan ada generasi setelahnya untuk bidang ini, beliau berkata kamu sungguh2 ingi...
Sumber gambar : Foto Arsip
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah shalatu wa salamu'ala Sayyidina Muhammad wa 'alaa Alihi wa Shohbihi wa Tabi'in wa ba'du,
Bila berbicara tema di atas yang aku ingat hanya ucapannya Bapak direktur pasca yang menyambutku ketika menjadi mahasiswa baru dengan ucapanya "kamu tidak salah ada di sini, sudah jadi di luar kok mau masuk lagi?! nanti klo pindah bidang (maksudnya klo sekolah lagi berarti mau bekerja berbeda dengan berbisnis), ya waktu itu Alhamdulillah sudah punya usaha dekat kampus, sebagai juga alumni yang menggagas inkubator bisnis (bersama dosenku) di area kampus untuk para mahasiswa. Ucapannya begitu terasa sekarang, apa yang beliau maksud. Tapi tak pernah saya sesali, hanya terkadang perlu kita mengingat bahwa telah besar kita korbankan demi pilihan kita.
Dan ucapan Prof, guru yang tulus di bidang ini, mengajar dengan sabar, dan penuh harapan ada generasi setelahnya untuk bidang ini, beliau berkata kamu sungguh2 ingin di bidang ini? mendengarnya sedikit tercengang, dan tanpa ragu saya jawab iya Prof. Matanya melihat kesungguhan ku, sambil menunjuk perpustakaannya yang luas beliau bilang itu buku-buku di sini banyak silahkan kamu datang untuk baca, tp harus kamu ketahui, bidang ini tidak seperti bidang lain, sambil menanyakan kembali kepadaku, saya jawab kembali iya Prof tidak apa2, seketika beliau semangat mengajar kami yang cuma sedikit di bidang ini. Terlihat semangatnya memancar, kemudian ucapannya memotivasi kami, kemudian panjang menceritakan sejarah hidupnya, kemudian beliau begitu senangnya menyodori kami materi2 yang langka di dalam negeri, beliau cerita dari luar negeri, sehingga kerja tugas kami sangat ekstra karena harus juga menerjemahkannya terlebih dahulu, mingu demi minggu.
Ternyata mereka sedang berbicara idealis vs realitas, bahwa di Indonesia ini untuk bidang ini masih di pandang sebelah mata, seolah menjadi anak tiri, padahal di luar negeri merupakan tingkat yang paling tinggi. Banyak para anak-anak pembesar yang masuk jurusan ini, termasuk di dalam negeri. Sedangkan kami waktu itu semuanya orang biasa, eh salah ada yang dari kalangan bangsawan. Tapi ketika melihat kesungguhan kami, Prof begitu semangat, prof begitu gigih mengajar kami, jumlah kami bertiga sungguh digembleng, tidak terlihat semangatnya kendor walau sudah sangat tua dan kesulitan walau untuk berjalan, kami rela mendatangi kediamannya demi bisa belajar darinya. Semoga dibalas kebaikan yang banyak oleh Allah Swt, Allahumma irhamha. Aamiin.
Dari cerita di atas realitas dan sebuah idealisme dalam dunia literatur, perlu perjuangan bahwa literatur itu penting untuk bangsa. Jangan dianak tirikan bidang ini, baik dalam hal riset dll, berikan kesempatan yang sama seperti bidang2 lainnya.
Semoga kedepan, kesadaran akan pentingnya literatur tumbuh seiring bertumbuhnya kenyaman realitas dalam peri kehidupan bangsa.
Semoga berkembang ke arah kemajuaan. Aamiin
Be happy..
Demikian, semoga bermanfaat.
Wabillahi taufik wal hidayah wa salamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Comments
Post a Comment