Berbeda dengan sikap mental pemikir, banyak sekali dipikirkan dari mulai teori, metode, dll.
Dua persimpangan jiwa diantara dua profesi.
Ditambah rumit ketika keadaan mendesak kita dengan hal-hal yang tak pernah kita pikirkan sebelumnya.
Btw terkadang hal kecil, seorang istri biasanya bilang ke suaminya awas kamu kalau tinggalkan saya, kemudian dia lihat lah hal 2 kecil dan ini itu, padahal tidak kepikiran sama suaminya yang lelah bekerja, pikirannya penuh kebutuhan, fokusnya nya hanya dia istrinya, Anak-anak dan keluarganya. Tak pernah sedikitpun pikirkan yang lain, di jalan, di tempat2, dia fokus aktivitasnya tanpa perhatikan apa2 yang dia potret atau dibaca, tau juga tidak, hanya kegiatan dia yg sedang dilakukan, rela makan sendiri di emperan tanpa resto yang mewah kecuali sama2 anak dan istri, rela minum kopi pas sendiri di warkop atau warung seduhan kopi sachet bukan cafe demi tidak mengeluarkan banyak untuk dirinya.
Tapi sayang pejuang tidak selamanya dihargai. Lebih egois perasaannya sendiri, apalah alasannya.
Baju lusuh, bau keringat, boro2 wangi mengundang yang indah, bisa hidup aman sentosa keluarga saja sudah syukur dalam hidupnya, jangan pernah balas perbuatan orang yang tak pernah dia lakukan, apalagi orang kesayangan anda semisal suami dan istri. Kerugian apabila harus berpisah hanya dengan prasangka, belum bicara jelas, dan adanya kesulitan biasa sebenernya, anak2 jadi korban, kesalahan fatal, dari pernyataan awal "jangan tinggalkan saya" Tapi tidak ditanamkan dalam dirinya. Sehingga bukan orang yang diperingatkannya, tapi dianya sendiri yang meninggalkan.
Sekarang siapa yang meninggalkan, siapa yang berjanji susah senang, terkadang ucapan kita sendiri jadi bumerang.
Jadi sebenernya ya do best saja semuanya, jangan bikin ribet pikiran masing2, kegiatan masing2, punya keyakinan kuat, tidak raguan, dan insyaAllah semuanya baik2 sj, tidak plinplan dan harus istiqomah.. Itu sih yang penting pegang komitmen, kecuali sudah tidak mau. Tidak ada paksaan, dalam beragama saja tidak ada paksaan. Sebenernya jadi diri sendiri saja ndak usah dengar orang, do the best go ahead.. Dengan batas2 syariat.
Be happy
Ekspresikan memang diri itu bukan dipendam, yang penting dalam keshalehan/hah an (bener artinya itu sholeh) bukan pura2 bener.. Pura2 lembut alim, dll
. Wallahu 'alam bi showab, semoga diriku pun bisa ekspresikan lagi kepribadian yang duluuu sebagai pengusaha pemberani, walau tetap jadi dosen haha.
Wabillahi taufik wal hidayah wa salamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Comments
Post a Comment