Sumber gambar : Arsip Pribadi بسم الله الرحمن الرحيم الحمدلله Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Segala puji bagi Allah, shalatu wa salamu 'ala Habibina wa Maulana Muhammad wa 'alaa Alihi wa Shohbihi wa Tabi'in. Semoga kita semua dalam keadaan yang baik, pada kesempatan kali ini saya mau share tentang " Ketika harus sendiri". Dan kemungkinan tulisan ini merupakan tulisan yang masih bertema pengalaman dan butuh waktu ke tulisan berikutnya karena mendapat peringatan dari salah seorang guru bahwa pentingnya bertadabur dan bertadzkira menggunakan Al-Qur'an, sementara saya seorang fakir yang masih perlu banyak belajar hal itu, maka membutuhkan waktu untuk belajar. Sementara yang paling terakhir ini pasca ada ujian hidupku lebih kepada pengalaman saja, yang ini pun sama. Untuk lebih meningkatkan kualitas blog dan isinya, saya merasa perlu belajar dari para guru-guru yang ahlinya. Kembali kepada topik, ketika harus sendiri, tidak apa2...
Sumber gambar : Arsip Pribadi
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
Segala puji bagi Allah, shalatu wa salamu 'ala Habibina wa Maulana Muhammad wa 'alaa Alihi wa Shohbihi wa Tabi'in.
Semoga kita semua dalam keadaan yang baik, pada kesempatan kali ini saya mau share tentang " Ketika harus sendiri".
Dan kemungkinan tulisan ini merupakan tulisan yang masih bertema pengalaman dan butuh waktu ke tulisan berikutnya karena mendapat peringatan dari salah seorang guru bahwa pentingnya bertadabur dan bertadzkira menggunakan Al-Qur'an, sementara saya seorang fakir yang masih perlu banyak belajar hal itu, maka membutuhkan waktu untuk belajar. Sementara yang paling terakhir ini pasca ada ujian hidupku lebih kepada pengalaman saja, yang ini pun sama.
Untuk lebih meningkatkan kualitas blog dan isinya, saya merasa perlu belajar dari para guru-guru yang ahlinya.
Kembali kepada topik, ketika harus sendiri, tidak apa2, dan orang-orang tidak mau sama kita, apalagi klo dunia yang nampak pada kita hilang, orang enggan kepada kita, terlebih ada yang tidak suka kita, lebih runyam lagi. Padahal dari balik pandangan orang kita sedang berusaha keras, dan boro2 untuk lihat apalagi urusi urusan orang, karena tercapai kebutuhan untuk diri dan orang2 yang menjadi tanggungan kita dan fokus target sudah menyita waktu. Tulang punggung keluarga harus kuat memang. Saya hanya mendapatkan pesan dari ibu bahwa tidak mengapa akan hal itu, kita kan punya "Allah" Baca saja "Hasbiyallahu wa ni'mal wakil ni'mal maula wa ni'man nashir. Kita punya Allah yang sebaik-baik wakil dan sebaik2 Pelindung dan Penolong. Terserah orang mau bagaimana2, yang penting kita baik, dan Allah jadi Penolong kita, sudah cukup katanya.
Terkadang orang liat luarnya saja, kemudian mengganggap kita tidak ngerti syariat, padahal kita tau hanya mungkin ada salah paham, atau cara kita terlihatnya seperti apa, padahal cara kita sedang menyesuaikan zaman ketika komunikasi yang lugas untuk sampaikan maksud bisa tercapai, bukan juga untuk menggunakannya ke hal lain, apalagi ke hal haram. Naudzubillah min dzalik.
Padahal kebebasan orang bersuara publik itu dilindungi Undang-undang Negara.
Ini yang dari dulu sebenernya ndak terlalu ingin banyak medsosan, pas posting apa, eh ada yg salah paham, padahal maksudnya apa eh dikiranya apa.
Terserah orang saja berpikir apa, menurut salah satu guruku berkata, lebih baik terlihat orang salah dari pada kita tidak berusaha dengan jalan baik, halal, dan terhormat.
Yang penting saling menghormati, tidak negatif thinking.
Kemudian mengenai pemenuhan undangan, jangan dianggap negatif, ketika seseorang tidak bisa hadir, bisa saja baru saja ada kebutuhan keluarga yang mendadak, sehingga terkuras, kemudian pekerjaan yang padat, tugas, dll. Ketika orang tidak menyuguhi makanan hanya air saja, itu tadi orang harus lebih mengerti. Jadi positif thinking itu baik. Berbeda dengan negatif kemudian sampai ada yang berani mencela, menjapri, bertanya, kenapa ini itu, padahal bukan urusannya, itu sudah tidak baik. Cukup fokus saja hidupnya masing-masing sebenernya, palagi klo sudah tidak ada hubungan apa-apa.
Saling mengerti saja, bahwa masing-masing sedang menjalankan kehidupan masing2, berusaha dll, ikatan silaturahmi tetap terjalin, karena ikatan darah anak dan orang tua tak bisa dipisahkan. Hubungan silaturahmi harusnya terjaga ketika tanggung jawab kepada anak-anak sudah dijalankan.
Marilah lebih bijaksana, dan saling mendo'akan kehidupan masing-masing lebih baik ke depannya.
Toh takdir Allah harus diterima dengan lapang, dan melangkah lagi ke takdir lainnya yang lebih baik.
Ketika usaha sudah dijalankan, untuk hasil apapun kita sudah puas. Dan bersyukur kepada Allah SWT apapun itu.
Be happy saja, dan berpikir positif.
Menjaga kasih sayang terhadap sesama dan jangan menanam kebencian. Kita akan menuai apa yang kita tanam.
Semangat selalu dan be happy.
Semoga kita termasuk orang yang istiqomah, dan selalu beristighfar, bersyukur kepada Allah SWT.
Demikian semoga bermanfaat, wabillahi taufik wal hidayah, wasalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Comments
Post a Comment